|
YERUSALEM
Kota Suci Yang Terus Membara
Dari berbagai sumber
diringkas oleh Editor
Nama Jerusalem atau Yerushalayim (ibrani) bermakna kedamaian. Konon, nama Jerusalem berarti ”Warisan Perdamaian”—”warisan” (yerusha) dan ”damai” (salem atau salom). Begitulah yang tercatat dalam sejarah Jerusalem. Sebagian orang lain berpendapat bahwa kata "Shaem" diambil dari Raja Salem, atau Melkisedek, Imam Maha Tinggi di "Yebus" (nama lain Yerusalem)
Sejarah membuktikan di dunia ini yang selalu diperebutkan, dihancurkan, dan dibangun lagi adalah Jerusalem. Kota ini selalu diperebutkan sejak zaman sebelum Masehi hingga sekarang. Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang menjadi korban perebutan kota yang sering disebut sebagai ”Kota Para Malaikat” ini dan menjadi kota suci tiga agama besar : Yahudi, Kristen dan Islam.
Tragedi sejarah
Sejarah menceritakan, pada tahun 1250 SM, orang-orang Yahudi menaklukkan tanah Kanaan. Ibu kotanya sendiri—yang sekarang dikenal sebagai Jerusalem—baru ditaklukkan Raja Daud pada tahun 1000 SM. Karena itu sering pula disebut sebagai ”Kota Daud”.
Pada tahun 587 SM, Jerusalem dihancurkan Raja Babilonia Nebukadnesar dan kenisah (tempat sembahyang orang Yahudi) dihancurkan. Baru pada tahun 537 SM orang-orang Yahudi membangun kembali kenisah di tempat yang sama. Namun, pada tahun 333 SM Aleksander Agung merebut Jerusalem, dan setelah kematiannya, kota itu jatuh ke tangan penguasa Mesir dan Suriah.
Cerita seperti itu terus terjadi. Zaman kekaisaran Romawi berkuasa, kota itu jatuh ke tangan mereka. Herodes Agung membangun kota itu dengan kenisahnya sekalian. Lalu terjadi pemberontakan Yahudi, 66 Masehi. Pada tahun 70 M penguasa Romawi, Titus, menghancurkan kota itu seluruhnya dan hanya meninggalkan sebagian tembok yang sekarang disebut Tembok Barat.
Setelah revolusi Bar Kochba (135 M), Jenderal Hadrian, panglima Romawi, membangun kembali Jerusalem dan diberi nama Aelia Capitolina. Sekitar 200 tahun kemudian dibangunlah Gereja Makam Suci atas perintah Ratu Helena, ibunda Kaisar Konstantin.
Catatan sejarah masih bercerita. Pada tahun 637 M Kalifah Omar merebut Jerusalem dan membangun Dome of the Rock di kompleks Temple Mount. Di tempat yang sama dahulu, kenisah pertama dan kedua didirikan. Ketika pecah Perang Salib, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Perang Salib pada tahun 1099. Namun, pada tahun 1187 Jerusalem jatuh ke tangan Saladin. Pada tahun 1229 Jerusalem jatuh lagi ke tangan pasukan Perang Salib, lalu direbut penguasa Turki pada tahun 1517, dan Sulaiman Agung membangun kota itu.

Tatkala pecah Perang Dunia I, 1917, Jerusalem diduduki pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Allenby. Pada tahun 1947 PBB merekomendasikan agar Palestina dibagi dua: negara Yahudi dan Palestina. Rencana itu ditolak, dan pada tanggal 14 Mei 1948 pecah perang antara Yahudi dan Arab. Hasil perang, Jerusalem hancur, Jordania menguasai separuh kota, yakni bagian timur.
Lalu, pada tahun 1950 Israel mengklaim Jerusalem sebagai ibu kota resminya. Tindakan itu diikuti Palestina yang juga mengklaim Jerusalem sebagai ibu kotanya. Kota Lama, Jerusalem Timur, tetap di tangan Jordania sampai pecah perang 1967, yang berakhir dengan direbutnya kota itu oleh Israel.
Nyanyian Jerusalem
Cerita tidak berakhir sampai di sini. Jerusalem terus diperebutkan hingga kini. Usaha untuk menyelesaikan masalah itu sudah berulang kali lewat berbagai cara dan banyak meja perundingan. Namun, hasilnya nihil.
Andaikata dinding-dinding kota yang begitu tebal dan lorong-lorong yang menusuk-nusuk kota itu bisa bercerita, tentu sangat banyak cerita yang muncul. Siapa yang dapat memungkiri keindahan kota itu, yang oleh Alistair Duncan dilukiskan menerima sembilan dari sepuluh porsi keindahan dunia.
Dinding-dinding kota itu begitu kokoh dan tebal. Batu marmer pilihanlah yang menjadi bahannya. Jalan-jalan berbatu keras dan tebal tak rusak dimakan usia dan zaman serta musim yang berganti-ganti. Begitu banyak orang telah menginjak-injak jalanan kota itu, tetapi seakan tak pernah dirasakan. Jerusalem berdiri tegak di puncak bukit, seakan berkata dengan sombongnya, ”Akulah kota terindah di dunia.”
Siang dan malam orang selalu menaikkan doa dan pujian di Jerusalem. Pemazmur pun dengan amat berani menulis, ”Bagaimana mungkin kami menyanyikan lagu Tuhan di tanah asing? Jika aku melupakan engkau, O Jerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku. Jika aku tidak mengingat engkau, biarlah lidahku melekat pada langit-langit mulutku, jika aku tidak memilih Jerusalem sebagai puncak sukacitaku….”
Ribuan atau bahkan jutaan peziarah telah berdoa di kota itu. Begitu banyak doa yang didaraskan oleh para peziarah atau penduduk kota itu, tetapi nasib kota itu tetap seperti yang dilukiskan oleh Alistair Duncan: Sepuluh porsi penderitaan diberikan Tuhan kepada dunia, sembilan porsi di antaranya diberikan kepada Jerusalem dan satu porsi kepada manusia di wilayah lain.
Nasib kota itu seperti lorong-lorongnya yang begitu panjang dan berliku-liku. Ia seperti para pembeli cendera mata yang dipermainkan para pedagang di Via de lo Rosa dengan mematok harga sesuka hatinya. Di kota suci itu, memang, tidak ada ketulusan, tidak ada persaudaraan sejati. Yang ada hanyalah untung rugi seperti para pedagang itu. Yang ada hanyalah menang dan kalah.


Sunset di Yerusalem
|