Google

KESAKSIAN
Kesaksian: Keluarga Hackman (ayah Nerissa)
USA
Diterjemahkan oleh : Eddy Sriyanto


KESAKSIAN KAMI
 
    Sebagaimana Anda ketahui, putri kami Nerissa Jean Hackman meninggal dalam satu kecelakaan mobil pada tanggal 6 February 2004 pukul 9 pagi.  Ini adalah kisah pendek tentang perjalanan iman keluarga kami dalam minggu-minggu sesudah musibah itu. 
    Pertama, bagi Anda yang belum pernah mengenalnya sebelumnya, ijinkan saya menceritakan sedikit tentang Nerissa.  Dia adalah karunia bagi keluarga kami selama 16 tahun, bagi orang lain hanya beberapa tahun saja, dan bagi yang lainnya adalah sepenggal waktu dalam kebersamaan.  Dia adalah pribadi yang baik dalam keseluruhannya.  Dia sedang beralih menjadi dewasa dan hubungan kami berubah dari hubungan antara orangtua dan anak menjadi hubungan antara dua orang dewasa. Dia adalah anak yang besar. Dia mencari gereja dan kelompok pendalaman Alkitab, dia suka duduk di meja makan dan ngobrol dengan orangtuanya, dia berprestasi baik di sekolah. Yang terpenting adalah apa yang dia lakukan untuk orang di sekitarnya.  Kami telah mendengar banyak cerita kentang kasih dia, penguatan dia, dan humornya.  Saya berdoa tiap hari kiranya Elohim memberkati setiap anggota keluarga kami dan ia menjadi berkat bagi yang lainnya. Nerissa menjawab doa kami itu dan menghidupkan doa itu.  Gadis itu memiliki rencana yang besar, tetapi Allah juga memiliki rencana tentang dia.   
    Nerissa meninggal akibat satu kecelakaan dalam perjalanan menuju sekolah.  Dia adalah satu dari dua penumpang dalam kendaraan itu.  Penumpang satunya lagi, seorang remaja pria 15 tahun, juga meninggal.  Pengemudi, sahabat baik Nerissa, selamat dalam musibah itua.  Saya menerima kabar itu sekitar pukul 10:00 dari Jim Wishmyer, gembala kami di Kapel Regester Gereja Methodist Persatuan.  Dia juga menyampaikan berita buruk itu pada isteri saya, Louise.  Semua penjelasan itu mengacaukan segala moril saya, tetapi untunglah bahwa Jim lah yang menyampaikan berita itu.  Dia bantu saya pulang dari pekerjaan dan mengantarkan sampai ke pintu rumah.  Saya dan Louise mulai proses duka itu hari jumat pagi. Saya berpikir bahwa kami berdua akan merangkak menuju WC sampai seseorang datang menyeret kami berdua untuk memakamkan putri kami. Sejumlah jemaat datang tetapi bingung hendak mengatakan apa. Beberapa orang membawakan penganan.  Anak lelaki terkecil kami JJ dalam kamarnya bersama teman-temannya.  Anak sulung saya Edward masih berada di Phoenix dan segera pulang ketika orangtua saya terbang pada hari Minggu.  Kami tidak tahu cara berkabung.  
    Banyak hal betrubah pada hari Sabtu.  Ketika para kerabat berdatangan (dewasa dan anak-anak),Saya dan Louise sangat terkesan akan rasa kehilangan mereka.  Ketika beberpa orang yang melayat tampak lebih terluka dan terpukul daripada kami.  Ada yang menawarkan untuk berdoa bagi kami Saya merasakan bahwa justru merekalah yang membutuhkan penyembuhan sedih hati, sehingg saya memutuskan untuk mengambil alih doa. Ketika saya mulai berdoa, saya rasakan kuasa Allah hadir dan melingkupi semua yang hadir. 
    Sore hari Sabtu , saya duduk berdoa dengan saudara-saudara seiman dalam Kristus, Brent and Bob.  Tadinya saya mengira bahwa saya akan duduk dan memohon mereka menaikkan doa bagi kami.  Yang terjadi adalah sebaliknya.  Firman Allah mulai hadir,dan Roh Allah mulai meliputi saya.  Doa saya bagi penghiburan keluarga kami berubah menjadi doa penmulihan bagi yang hadir. Saya diyakinkan bahwa terjadi banyak pemulihan melalui doa di rumah saya hari itu.  Saya menyadari bahwa ketika orang-orang datang melayat, kuasa Allah melawat saya dan Louise dan kepada hadirin yang hadir. Para pelayat akan pulang dengan rasa sedih yang berkurang dan lebih banyak damai pengiburan ketika mereka pulang. 
      Minggu pagi pengemudi mobil kecelakaan itu, keluarganya, dan temannya datang berkunjung.  Pengemudi itu ketakutan karena bersalah tetapi kami semua memeluknya, berdiri di dekat ambang pintu dan berdoa. Gadis itu meratap secara tak terkendali di dalam dekapan Louise ketika kita berdoa.  Semua menangis ketika saya berdoa pada Allah untuk pemulihan kemudian.  Sesudah beberapa menit, airmata saya mengering, suara saya kembali menguat, dan doa itu selesai.  Louise mengantar keluarga menuju ruang keluarga dan mereka mulai berbagi kisah tentang Nerissa.  Dia sekitar satu jam ngobrol dengan keluarganya, dengan sedikit duka digantikan dengan damai Allah.  Saya belum menyadarinya pada saat itu, tetapi mulai merasakannya jam 11. 
   Edward datang bersama orangtua saya dan saudari.  Edward terluka sangat dalam hatinya .  Edward merasa sangat bersalah telah mengabaikan Nerissa beberapa tahun.  Pengunjung yang menyaksikannya berkomenra pendek, “Itulah seorang abang.”  tetapi,mereka tidak merasakan luka yang dirasakannya.  Yang dirasakannya adalah tahun-tahun yang terbuang dan ia inginkan seorang saudara lagi. 
     JJ miliki luka yang berbeda dengan yang dialami Edward.  Dia baru saja tiba dari masa kuliah bulan Desember dan Ia bersama Nerissa menjadi sangat dekat. Mereka menjadi sangat akrab.  Wanita itu akan melakukan hal yang sama dengannya.  JJ sangat kehilangan sahabat terbaiknya.  JJ lakukan banyak hal untuk menolong Edward dengan "kasih persaudaraan" .
     Saya merasakan bahwa Allah telah memberikan pada saya kekuatannya untuk menyembuhkan luka emosi dan luka jiwa.  Saya kirim email pada semua orang. Saya pikir sebaiknya doa penghiburan mulai pukul 11.00 siang untuk penghiburan dan penguatan. 
    Kami tiba untuk acara lelayu keluarga sebelum pukul sebelas siang. Kami berdoa dengan gembala kami untuk kekuatan dan kedamaian.  Saya menjerit kemudian, tapi Allah menghiburkan, dan doa selesai, air mata telah kering.  I didn’t shed a tear in the viewing room.  Saya iring setiap anggota keluarga, satu persatu, menyaksikan jenazah.  Mereka meratapinya, tapi Allah menaruhkan perkataan yang tepat pada mulut saya untuk menghiburkan.  Saya tak pernah menyangka untuk berkata apa, kata-kata itu keluar dengan sendirinya.  Tak ada penjelasan tentang pejuang-pejuang doa yang menahan Iblis pada ceruk pantai, mengijinkan Allah mengisi hati kami dan memberi kekuatan yang diperlukan pada saya sebagai kepala keluarga.  Anda tahu siapakah pejuang doa itu. Puji Tuhan! 
    Minggu malam , acara "lelayu" dijadwalkan jam 18.00-21.00.  Tidak seperti tradisi biasanya urutan acara adalah: 1) masuk ke dalam, 2) menulis buku tamu, 3) melihat jenazah , 4) menangis bersama keluarga, dan 5) pulang, kami memutuskan untuk berbuat yang lain.  kami akan mengadakan acara di Regester Chapel Youth Center, place the body in one of the Sunday school rooms, dan menebarkan kehidupan Nerissa di ruang terbuka pada foto, buku-buku dan kenangan-kenaaangan.  Ini bukanlah tradisi melayat yang biasanya. Bangsal menjadi penuh dan tidak berkurang; lebih dari lima ratus remaja dan dewasa mengisi buku tamus. As folks came out of the viewing room, Saya memeluk mereka, berdoa dengan mereka, dan merasakan jamahan Allah bagi mereka yang menerimanya.  I would then send them to Louise for pictures, stories, dan more healing.  An open mike was provided for all who wanted to share stories.  Pengemudi mobil nahas itu, sahabat terbaik Nerissa, berbicara pertama kali.  Kalimat pertamanya adalah, “Saya adalah pengemudi pada saat kecelakaan itu,” dan ia lalu bercerita tentang sahabatnya itu.  
    Gereja kami punya program 40 hari Agenda Kegiatan dan Nerissa adalah bintang dari tujuh drama seperti tampak dalam rencana Allah dalam dirinya.  Pertunjukan ini telah direkam dan diputar selama kebaktian Minggu.  Banyak orang tua remaja yang menyaksikannya.Banyak pula anak-anak yang bukan jemaat kami meminta copy dari rekaman tersebut. Kami berdoa agar kalau mereka melihatnya, mereka akan berbalik pada Allah dan melihat rencanaaa Allah dalam hidup mereka.  
    Edward dan JJ ingin menyendiri dalam ruangan lelayu.  JJ pergi duluan dan menutup pintu.   Saya biarkan ia sebentar.  Dia sedang menangis di dekat jenazah Nerissa tapi tidak berkata apapun.  Dia hanya menyandarkan sikunya disisi peti dan sesenggukan.  Saya membelai punggung dan leher belakangnya dan menghiburnya.  Dia mencium kening jasad adiknya dan ucapkan selamat tinggal. 
    Dia tinggalkan ruangan tetapi masih menangis dan menangis terus tanpa henti.  Rupanya Edward belum mengalami pendamaian ilahi. 
   
    Malam itu , Saya memanggil beberapa pejuang doa dan meceritakan pada mereka tentang keadaan Edward.  Saya meminta mereka mulai berdoa pukul 4 sore Tuesday afternoon untuk meminta kekuatan dari Allah dan meneguhkan kami selama kebaktian pemakaman, terutama sekali untuk Edward. 
    Ketika saya memohon doa itu, Edward berada dalam kamarnya dan, katanya, “ingin berbicara pada Allah.”  Dia cerita pada kami pagi berikutnya bahwa dia menghabiskan waktu dengan menangis dan berdoa.  Dia mainkan lagu yang dimainkan di kamarnya setiap malam dia hendak tidur. Wajah dan suaranya tampak tegar. 
    Kebaktian dimulai sebagaimana pemakaman biasanya, sangat khidmat.  Penyanyi tunggal sangat baik membawakan lagu “Old Rugged Cross.”  Saya dapat merasakan suasana doa; tak ada air mata di diri saya.  Dua pastor membacakan beberapa ayat suci.  JJ memilih satu lagu dari CD.  "The Immortal" oleh Evanescence.  Ketika lagu ini dialunkan , beberapa orang berkesempatan menyampaikan pesan-kesan dan kenangannya terhadap mendiang.   
    Edward berdiri di mimbar bersama saya dibelakangnya, dan temannya John dan Ian di kiri-kanannya.  John berdiri sangat dekat di sisi kiri Edward , Ian memegang bahu kanannya, dan saya taruh tangan saya pada kedua bahunya dari belakang. Ketika dia mulai bicara, suarannya kuat.  Saya terus-terusan berdoa, “Tuhan, berikan kekuatan-Mu pada pria ini.”  Saudaraku, Ia mengabulkannya!  Edward sempoyongan beberapa kali, tapi dia kuatkan dirinya sendiri.
    Lagu penghibran terakhir adalah “Aku Akan Terbang” dan ini lagu pilihan saya.  Saya pernah mempelajari lagu ini selama satu tahun perjalanan saya di Korea.  Saya selalu diingatkan betapa saya menaruh kepercayaan pada Tuhan selama saya berpisah dengan keluarga saya. Saya tak bisa menghentikan tangisan ketika mulai menyanyikan lagu itu Pada kebaktian penghiburan itu, saya menyanyi dengan lantang tanpa lagu. Pada bait terakhir, saya mulai bertepuk tangan; katakanlah ini hak saya.  Bayangkan, bertepuk tangan dalam gereja Methodist ... pada suatu pemakaman!!  Saya tak tahu berapa yang ikut bertepuk tangan, tetapi sekelompok hadirin melakukannya. 
    Total waktu adalah 1jam 45 menit.  Banyak yang mengatakan bahwa ini adalah kebaktian tercepat yang pernah mereka lihat.  Semuanya ini membawa kemuliaan Tuhan.  Bagi mereka yang menyaksikannya sendiri, mereka melihat pekerjaan Allah.  Bagi mereka yang melihat Edward pada malam sebelumnya sangat kagum akan perubahan yang terjadi.  Itulah kuasa Allah atas putera kami! 
    Tanggal pemakaman adalah pada hari Jumat tanggal 13 February 2004.  Nerissa mungkin suka dimakamkan pada Friday the 13th, sekedar dihiburkan bahwa hadirin mungkin akan menyaksikan "sesuatu" pada tanggal keramat itu. Sekali lagi saya putuskan berdoa.  Saya tahu bahwa saya dapat terluka.  Saat itu saya sadar akan meninggalkan bekas luka.  Ini bukanlah Lazarus kedua .  Saya dan Louise tahu bahwa bila kami putus asa, Edward tidak akan mau kembali ke kampus karena dia akan menginginkan membantu kami untuk memulihkan kami.   
    Kebaktian sangat singkat.  Mentari tepat menyinari kami dengan hangatnya, tetapi udara cukup sejuk.  Dua orang pendeta kami membaaacakan sepenggal ayat Alkitab, lalu pendeta senior menyampaikan firman Tuhan.  kami menyanyikan lagu pendek tentang Mazmur 23, Doa Bapa Kami, lalu saya terka, upacara pemakaman resmi Methodist .  kami minta semua anak bangkit untuk menabur bunga mawar pada peti jenazah, lalu giliran kami berempat menaburkannya pada bagian atas. kami berdiri beberapa menit lalu pergi.  Beberapa teman Nerissa membacakan puisi perpisahan ketika kami pergi. Saat terberat itupun lewat. 
    Saya menyaksikan semuanya ini.  Allah itu baik... segala waktu.  All the time ... God is good.  Iman kami pada kemenangan Kristus atas dosa dan maut memberika saya dan Louise suatu jaminan pasti akan tempat Nerissa di surga.  Jaminan itu mengijinkan Allah bekerja dalam kami dan melalui kami untuk menghadirkan damai Allah dan menghiburkan yang lainnya..  Tanpa iman, kami tenggelam dalam keputuisasaan.  Kekuatan dari Allah menopang kami melalui minggu itu dan terus berkelanjutan menguatkan kami.
         Dari pengalaman ini, saya percaya akan: 
Kuasa penyembuhan dari Allah .  Kami melihat dan merasakan Kuasa Allah untuk menyembuhkan luka emosi dan luka jiwa.  Saya tidak meragukan Allah menaruh kuasa-Nya melalui individu , dan jika orang lain membuka diri terhadap kuasa-Nya, penyembuhan akan terjadi. 
Kekuatan doa.  Saya dan Louise tidak terlalu emosional menghabiskan hari-hari tersebut. Hanya doa-doa dari orang percaya seluruh dunia yang menjangkau kami melalui hal ini. 
Kekuatan doa yang terarah.  Pada waktu yang spesifik dan kesempatan yang spesifik pula, saya berdoa. Saya tahu bahwa doa ini menyembuhkan kami ketika kami memintanya dalam doa, dan hasilnya sangat menakjubkan.   
    Louise dan saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kami kepada saudara-saudari seiman di Regester Chapel, umat Allaah di semua tempat, sahabat kami, dan tetangga kami . kami merasakan kuasa doa Anda dan melihat Allah melakukan mujizat dalam kehidupan kami. kami tak dapat membalas semua yang Anda lakukan menolong kami, dan rasa kasih Anda pada mendiang Nerrissa.  Semoga Allah memberkati Anda semua berlimpah.  
    Setelah lama berselang sejak sejak kematian tragis Nerissa .  Kami pernah punya waktu gembira dan waktu bersedih.   Kartu dan surat telah menghibur dan membawa banyak kenangan manis. Dan kami tahu pasti, melalui karunia Allah, kami akan berkumpul lagi di surga. 
__________

 

Back to home