| NIISHIMA
SHIMETA
Kisah
Perjalanan Iman Seorang Pendekar Samurai Jepang
sumber:
wikipedia.org, Penuntun Harian November 2000 dan sumber
lain
dikutip oleh Eddy
Sriyanto
Jepang turut menyumbangkan seorang misionaris terkemuka
bagi ladang penginjilan. Walaupun di Jepang hanya ada
sekitar 1,3 persen orang Kristen dari 150 juta penduduk.
Tetapi
benih-benih itu telah ditabur. Salah satu history maker
dalam sejarah penginjilan adalah seorang pemuda, pendekar
samurai lebih dari seraus tahun lalu. Niishima Shimeta
dilahirkan pada tanggal 12 February 1843 di Tokyo. Waktu
ia masih kecil, Jepang sangat tertutup dari dunia luar,
tetapi perubahan mulai terjadi. Laksamana Perry datang
ke Jepang ketika Niishima berusia sepuluh tahun, dan
Jepang mulai merundingkan perjanjian komersial dengan
negara-negara asing ,saat itu ia masih remaja. Pengetahuan
Niishima tentang dunia di luar Jepang sangat terbatas.
Dia pertama kali mengenal Amerika Serikat melalui buku
dalam bahasa /karakter China oleh utusan Injil ke China.
Untuk pertama kalinya ia mendengar tentang kekristenan
dan sebuah pelajaran Alkitabiah . Dia sangat kagum akan
apa yang telah diraih oleh Amerika Serikat dan ingin
agar Jepang menikmati kebebasan yang sama. Dia ingin
ke Amerika untuk belajar lebih jauh, tetapi saat itu
orang Jepang yang pergi ke luarnegeri akan ditangkap
dengan tuduhan pengkhianatan. Niishima merencanakan
untuk kabur,apapun yang terjadi.
Pada tahun 1864, dalam usia 21 tahun, dia pergi ke Hakodate,
sebuah pelabuhan di bagian utara Jepang yang terbuka
untuk orang asing. Dia berkenalan dengan Nicholai,pejabat
Konsulat Russia di situ, dan membantu Nicholai belajar
bahasa Jepang. Nicholai ini dikemudian hari mendirikan
Gereja Ortodoks Russia di Jepang. Berada di Hakodate,
Niishima menyaksikan kemaksiatan dan kerusakan moral,
ia berpikir bahwa Jepang memerlukan suatu perubahan
moral yang besar. Dia berharap dapat menemukan kunci
jawabannya di Amerika Serikat. Dia berlayar ke Shanghai
dengan kapal Amerika. Di sana ia membujuk seorang kapten
Amerika untuk membawanya sebagai pekerja kabin dalam
pelayaran ke Amerika Serikat. Kapten itu menerima Niishima
dengan baik, bahkan mengajarinya bahasa Inggris dan
navigasi selama ia bekerja sebagai kelasi kapal. Ketika
kapal berlabuh di Hong Kong, Niishima menjual pedang
samurai sword untuk mendapatkan uang sehingga bisa membeli
satu jilid Perjanjian Baru dalam bahasa China (kanji).
Dia belum mengerti apa yang dibacanya, tetapi ayat dalam
Yohanes 3:16 memberikan impresi kuat dalam jiwanya.
Niishima mendarat di Boston tahun 1865. Dia tak tahu
bagaimana caranya untuk mengenal Allah dan Amerika Serikat
yang dia baca di tulisan-tulisan para misionaris. Tapi
sesudah membaca buku Robinson Crusoe dia dapat memahami
bagaimana berdoa pada Tuhan. Niishima berdoa agar Tuhan
menuntunnya. Alpheus Hardy, seorang pengusaha yang sukses
dan pemilik kapal yang membawa Niishima ke America,
mulai tertarik pada pemuda ini. Hardy membiayai studinya
di Phillips Academy, Amherst College, dan Andover Theological
Seminary. Ketika belajar di Phillips Academy, Niishima
bertobat menjadi Kristen dan dibaptis.
Jo, seorangYusuf untuk Jepang.
Kapten yang membawa Niishima ke Amerika memanggilnya
Jo. Alpheus Hardy memberitahu Niishima tentang Yusuf,
dan Niishima sangat menyukai kisah Yusuf dalam Alkitab,tentang
mimpinya, pembuangannya sebagai budak dan persiapannya
di negeri asing untuk mempersiapkan masa depan yang
baik bagi kaumnya. Niishima kemudian memakai nama Hardy
sebagai penghargaan atas kebaikan tuannya. Niishima
sangat terbeban untuk tanah airnya, Jepang. Dia sangat
rindu melihat Jepang sebagai suatu negara Kristen. Perubahan
besar terjadi di seluruh Jepang - kalender Barat telah
digunakan, jalur rel kereta api dibangun, satuan tentara
dan navigasi dibangun menurut cara Barat. Para pemimpin
Jepang baru ini dari kalangan samurai elit, dan Niishima
yakin bahwa kekristenan akan diterima dengan sangat
baik diantara masyarakat Jepang dengan mengadopsi nilai
luhur para samurai.
Pada tahun 1874 di Pertemuan Tahunan The American Board
of Commissioners untuk Utusan Injil Asing, Niishima
ditugaskan untuk kembali ke Jepang sebagai seorang utusan
Injil. Dengan gejolak emosi dia bangkit berdiri dan
berkata, "Saya tak dapat kembali ke Jepang tanpa
dana untuk membangun sebuah kampus Kristen, dan saya
akan tetap berdiri disini sampai saya mendapatkannya."
Mengabaikan keraguan dari teman-teman Amerikanya, hampir
$5,000 telah terhimpun dari para koleganya untuk mewujudkan
mimpi Niishima.
Once back in Jepang, Niishima menemukan bahwa ayahnya,
keluarga, dan masyarakat dari kota-kota sekitarnya sangat
tertarik mengerti tentang kekristenan. Keunggulan keluarga
Niishima dan pengalaman yang unik membuat perjalanan
hidupnya menarik perhatian banyak orang,bahkan dari
luar negeri.Pada bulan Juni1875, Niishima membeli 1/2
hektar tanah di Kyoto, tidak jauh dari Istana Imperial,
untuk membangun sebuah sekolah. Dia menamainya Doshisha,
yang artinya Sang Pelaksana .
Ini adalah perhimpunan Jepang murni tanpa orang asing
dalam administrasinya.
Dasar Kepemimpinan
Tak lama kemudian tiga puluh orang mantan samurai muda
dari Kumamoto di pulau Kyushu memasuki kampus. Anak-anak
muda ini telah bertobat dan menjadi Kristen di bawah
bimbingan seorang Amerika yang telah mengajari mereka
bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan Barat. Mereka belajar
di Doshisha selama tiga tahun, dan beberapa diantaranya
kemudian menjadi pemimpin Kristiani di Jepang.
Niishima menanamkan visi pada Doshisha sebagai sebuah
universitas dengan komitmen Kristiani yang kuat. Dia
yakin bahwa sebuah dasar moral Kristen sangat dibutuhkan
untuk perkembangan negara Jepang. Sakit penyakit dan
kelemahan menyerang Niishima dan memperlambat implementasi
rencananya. Di tahun 1884 dia pergi ke eropa dan Amerika
untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan. Walaupun
demikian, ia tetap bekerja untuk penyebaran Kabar Baik
di Jepang -- menyumbang sebuah penerbitan suratkabar
Kristen di Tokyo, mendirikan sebuah kampus medis yang
bekerjasama dengan Doshisha, menghimpun dana untuk perpustakaan
Doshisha dan kampus kedokteran, dan mengatur beberapa
guru Jepang untuk belajar di Amerika Serikat. Ketika
belum berusia empat puluh tujuh tahun , di tanggal 23
bulan January 1890, Joseph Hardy Niishima menghembuskan
nafas terakhir. Kata-kata terakhirnya --"Peace,
joy, heaven."
|