<img src="http://eddysriyanto.com/nonflash.gif" width=462 height=60 border=0>

  BE AWARE OF EARTH DESTRUCTION -- KEEP GREEN ....  
FOYER
. HOME
GAMBAR KRISTIANI ANIMASI

 
 

GIA Pringgading Semarang

Link Lainnya:

Morris Cerullo

Christian Broadcast News

Christianity Today

Rampai Tulisan:

THE WINNER, rubrik berisi kumpulan kisah-kisah tokoh iman yang berhasil memenangkan perjuangan.

THE LOSSER, rubrik berisi kumpulan kisah-kisah tokoh yang mengalami kegagalan

 

KREASI :

Animasi Flash koleksi gambar animasi rohani dalam format flash, kata-kata bijak dan ayat emas dalam sajian flash

 

 

this site belong to Jesus
Click here to bookmark this site

 

Last Update :

 

 

 

Search Word

Google

 

 

NIISHIMA SHIMETA
Kisah Perjalanan Iman Seorang Pendekar Samurai Jepang
sumber: wikipedia.org, Penuntun Harian November 2000 dan sumber lain
dikutip oleh Eddy Sriyanto



Jepang turut menyumbangkan seorang misionaris terkemuka bagi ladang penginjilan. Walaupun di Jepang hanya ada sekitar 1,3 persen orang Kristen dari 150 juta penduduk.

Tetapi benih-benih itu telah ditabur. Salah satu history maker dalam sejarah penginjilan adalah seorang pemuda, pendekar samurai lebih dari seraus tahun lalu. Niishima Shimeta dilahirkan pada tanggal 12 February 1843 di Tokyo. Waktu ia masih kecil, Jepang sangat tertutup dari dunia luar, tetapi perubahan mulai terjadi. Laksamana Perry datang ke Jepang ketika Niishima berusia sepuluh tahun, dan Jepang mulai merundingkan perjanjian komersial dengan negara-negara asing ,saat itu ia masih remaja. Pengetahuan Niishima tentang dunia di luar Jepang sangat terbatas. Dia pertama kali mengenal Amerika Serikat melalui buku dalam bahasa /karakter China oleh utusan Injil ke China.
Untuk pertama kalinya ia mendengar tentang kekristenan dan sebuah pelajaran Alkitabiah . Dia sangat kagum akan apa yang telah diraih oleh Amerika Serikat dan ingin agar Jepang menikmati kebebasan yang sama. Dia ingin ke Amerika untuk belajar lebih jauh, tetapi saat itu orang Jepang yang pergi ke luarnegeri akan ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan. Niishima merencanakan untuk kabur,apapun yang terjadi.
Pada tahun 1864, dalam usia 21 tahun, dia pergi ke Hakodate, sebuah pelabuhan di bagian utara Jepang yang terbuka untuk orang asing. Dia berkenalan dengan Nicholai,pejabat Konsulat Russia di situ, dan membantu Nicholai belajar bahasa Jepang. Nicholai ini dikemudian hari mendirikan Gereja Ortodoks Russia di Jepang. Berada di Hakodate, Niishima menyaksikan kemaksiatan dan kerusakan moral, ia berpikir bahwa Jepang memerlukan suatu perubahan moral yang besar. Dia berharap dapat menemukan kunci jawabannya di Amerika Serikat. Dia berlayar ke Shanghai dengan kapal Amerika. Di sana ia membujuk seorang kapten Amerika untuk membawanya sebagai pekerja kabin dalam pelayaran ke Amerika Serikat. Kapten itu menerima Niishima dengan baik, bahkan mengajarinya bahasa Inggris dan navigasi selama ia bekerja sebagai kelasi kapal. Ketika kapal berlabuh di Hong Kong, Niishima menjual pedang samurai sword untuk mendapatkan uang sehingga bisa membeli satu jilid Perjanjian Baru dalam bahasa China (kanji). Dia belum mengerti apa yang dibacanya, tetapi ayat dalam Yohanes 3:16 memberikan impresi kuat dalam jiwanya.
Niishima mendarat di Boston tahun 1865. Dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengenal Allah dan Amerika Serikat yang dia baca di tulisan-tulisan para misionaris. Tapi sesudah membaca buku Robinson Crusoe dia dapat memahami bagaimana berdoa pada Tuhan. Niishima berdoa agar Tuhan menuntunnya. Alpheus Hardy, seorang pengusaha yang sukses dan pemilik kapal yang membawa Niishima ke America, mulai tertarik pada pemuda ini. Hardy membiayai studinya di Phillips Academy, Amherst College, dan Andover Theological Seminary. Ketika belajar di Phillips Academy, Niishima bertobat menjadi Kristen dan dibaptis.
Jo, seorangYusuf untuk Jepang.
Kapten yang membawa Niishima ke Amerika memanggilnya Jo. Alpheus Hardy memberitahu Niishima tentang Yusuf, dan Niishima sangat menyukai kisah Yusuf dalam Alkitab,tentang mimpinya, pembuangannya sebagai budak dan persiapannya di negeri asing untuk mempersiapkan masa depan yang baik bagi kaumnya. Niishima kemudian memakai nama Hardy sebagai penghargaan atas kebaikan tuannya. Niishima sangat terbeban untuk tanah airnya, Jepang. Dia sangat rindu melihat Jepang sebagai suatu negara Kristen. Perubahan besar terjadi di seluruh Jepang - kalender Barat telah digunakan, jalur rel kereta api dibangun, satuan tentara dan navigasi dibangun menurut cara Barat. Para pemimpin Jepang baru ini dari kalangan samurai elit, dan Niishima yakin bahwa kekristenan akan diterima dengan sangat baik diantara masyarakat Jepang dengan mengadopsi nilai luhur para samurai.
Pada tahun 1874 di Pertemuan Tahunan The American Board of Commissioners untuk Utusan Injil Asing, Niishima ditugaskan untuk kembali ke Jepang sebagai seorang utusan Injil. Dengan gejolak emosi dia bangkit berdiri dan berkata, "Saya tak dapat kembali ke Jepang tanpa dana untuk membangun sebuah kampus Kristen, dan saya akan tetap berdiri disini sampai saya mendapatkannya." Mengabaikan keraguan dari teman-teman Amerikanya, hampir $5,000 telah terhimpun dari para koleganya untuk mewujudkan mimpi Niishima.
Once back in Jepang, Niishima menemukan bahwa ayahnya, keluarga, dan masyarakat dari kota-kota sekitarnya sangat tertarik mengerti tentang kekristenan. Keunggulan keluarga Niishima dan pengalaman yang unik membuat perjalanan hidupnya menarik perhatian banyak orang,bahkan dari luar negeri.Pada bulan Juni1875, Niishima membeli 1/2 hektar tanah di Kyoto, tidak jauh dari Istana Imperial, untuk membangun sebuah sekolah. Dia menamainya Doshisha, yang artinya Sang Pelaksana .
Ini adalah perhimpunan Jepang murni tanpa orang asing dalam administrasinya.
Dasar Kepemimpinan
Tak lama kemudian tiga puluh orang mantan samurai muda dari Kumamoto di pulau Kyushu memasuki kampus. Anak-anak muda ini telah bertobat dan menjadi Kristen di bawah bimbingan seorang Amerika yang telah mengajari mereka bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan Barat. Mereka belajar di Doshisha selama tiga tahun, dan beberapa diantaranya kemudian menjadi pemimpin Kristiani di Jepang.
Niishima menanamkan visi pada Doshisha sebagai sebuah universitas dengan komitmen Kristiani yang kuat. Dia yakin bahwa sebuah dasar moral Kristen sangat dibutuhkan untuk perkembangan negara Jepang. Sakit penyakit dan kelemahan menyerang Niishima dan memperlambat implementasi rencananya. Di tahun 1884 dia pergi ke eropa dan Amerika untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan. Walaupun demikian, ia tetap bekerja untuk penyebaran Kabar Baik di Jepang -- menyumbang sebuah penerbitan suratkabar Kristen di Tokyo, mendirikan sebuah kampus medis yang bekerjasama dengan Doshisha, menghimpun dana untuk perpustakaan Doshisha dan kampus kedokteran, dan mengatur beberapa guru Jepang untuk belajar di Amerika Serikat. Ketika belum berusia empat puluh tujuh tahun , di tanggal 23 bulan January 1890, Joseph Hardy Niishima menghembuskan nafas terakhir. Kata-kata terakhirnya --"Peace, joy, heaven."

 

 

 

 

Disiapkan dan diedit oleh: Editor
© COPYRIGHT -ARCHIPEDDY
Phone (021)93520099, HP 0816737660/ 0812-2525-268

 

 

pengunjung ke:

 

g

. . . . .