| Samuel Doctorian
Prophecies
sumber:
Many Sorce
by Eddy
Sriyanto
|
|
|
|
Susanna Wesley
Susanna Annesley atau Susanna Wesley lahir di London pada tahun 1669. Sejak kecil ia hidup dalam keadaan yang sulit sebagai anak ke 25 dari keluarga yang sangat sederhana.Walaupun sebenarnya ia memiliki kepandaian namun karena keadaan ekonomi membuatnya hanya menerima pendidikan yang rendah.
Pada usia 20 tahun, Susanna menikah dengan Samuel Wesley, pendeta Anglikan dan melahirkan 19 anak. Sembilan dari anak-anaknya meninggal ketika masih bayi. Salah satu putrinya yang lahir tahun 1705, mati tertindih wanita yang membantu mengasuhnya karena wanita itu kecapaian setelah berpesta sepanjang malam dan tertidur lelap menindih putri Susanna Wesley.
Penghasilan Samuel Wesley sangat kecil,sedangkan kebutuhan rumahtangga sangat banyak. Akibatnya Samuel sering berhutang dan pernah dipenjarakan karena terlambat membayar hutang. Sikap Samuel sebagai pendeta sangatlah keras sehingga tidak disukai sebagian jemaatnya. Samuel dan Susanna Wesley sering berdebat karena keduanya sama-sama memiliki watak yang keras.
Suatu ketika rumah mereka terbakar dan hampir saja menewaskan mereka. Beberapa saat mereka harus tidur di depan rumah mereka yang terbakar itu. Kesehatan Susanna mulai menurun setelah peristiwa itu. Pada tanggal 21 Juli 1731, kuda-kuda mereka berlari liar dan menjatuhkan Samuel. Samuel terluka parah dan mengalami penderitaan sepanjang hidupnya.
Rumah kecil mereka di Epworth, kota kecil yang cukup tertinggal di Inggris. Namun rumah ini menjadi tempat yang sangat terkenal dalam sejarah Inggris, karena disanalah lahir dan tumbuh dua pengabar injil yang sangat terkenal sepanjang masa ,yaitu John dan Charles Wesley.Kehidupan sulit yang dialami Susanna Wesley tidak menggoyangkan imannya, bahkan tangan yang bekerja keras dan hati yang tekun berdoa ini mengantarkan kesepuluh anaknya menjadi tokoh yang berguna bagi pergerakan gereja di jamannya, bahkan dua diantaranya menjadi pengkhotbah yang akan selalu dikenang dunia.
Susanna Wesley. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat kelihatan buah-buah karya rohaninya, baik sebagai pendoa bagi anak-anaknya maupun dukungkan buat pekerjaan pelayanan sang suami. Nama kecilnya Susanna Annesley, lahir tahun 1669. Ia merupakan anak bungsu yang dianggap paling cantik parasnya dan cerdas dibandingkan dengan saudara-saudara -nya yang lain. Ia memiliki banyak kemampuan yang sanggup menaklukan para remaja pada zamannya, sehingga mereka menjadi minder. Pada saat remaja saja ia sudah sanggup membaca dalam tiga bahasa yang cukup penting yakni bahasa Ibrani (bahasa Perjanjian Lama), bahasa Yunani (bahasa Perjanjian Baru) dan Bahasa Latin (bahasa Alkitab Katolik Roma).
Dan yang lebih luar biasa dari gadis remaja ini adalah ia mampu beragumentasi secara teologis dengan ayahnya yang merupakan seorang pendeta. Semua ini tentu tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan sang ayah semasa mereka masih kecil dan dukungan dari kakak-kakaknya. Pendeta. Dr. Samuel Annesley selalu mendorong anak-anaknya untuk belajar bebas mengutarakan pendapat dalam segala hal. Kemudian juga ditambah dengan pelajaran bahasa yang diberikan serta didukung dengan koleksi buku-buku perpustakaan pribadi sang ayah yang cukup banyak.
Sistem dan pola pikir yang bebas ini memungkinkan Susanna pindah dari gereja ayahnya dan bergabung di Gereja Anglikan. Kemudian dilanjutkan dengan konsep teologianya yang bertentangan dengan sang ayah yakni Sosianisme yang anti Tritunggal, namun ayahnya sangat menghargai keputusan yang diambil putrinya. Minat belajar dan membacanya sangat luar biasa, sehingga walaupun beliau sebagai isteri pendeta dan ibu rumah tangga masih sanggup melalap buku-buku yang berbau teologia
Samuel Wesley demikianlah nama suaminya, seorang mahasiswa teologia yang terkenal memiliki otak yang cemerlang. Pada masa pacarannya dipenuhi dengan banyak waktu untuk berdiskusi masalah-masalah teologia. Setelah masa pacaran mereka berlalu selama tujuh tahun, akhirnya Samuel Wesley membawa Susanna Annesley ke jenjang pernikahan menuju bahtera rumah tangga sebagi isteri seorang pendeta. Peranan Susanna sebagai isteri cukup berpengaruh untuk mengatur roda kehidupan rumah tangganya.
Dalam kehidupan rumah tangga mereka sehari-hari, sehabis makan pagi biasanya diadakan kebaktian keluarga yang berfungsi untuk membangun kerohanian pribadi dan keluarga juga sebagai persiapan memberitakan firman Tuhan pada hari Minggu. Setelah itu Samuel akan mengadakan kunjungan ke jemaat dan pada saat yang luang seperti itu biasanya Susanna mengambil kesempatan untuk membaca selama dua jam terutama tentang hal-hal yang baru. Kebiasaan ini tetap dilakukan sampai waktu sudah mempunyai anak.
Sebagai seorang pendeta di desa kecil Inggris, otomatis mereka menerima gaji yang sangat minim; belum lagi ditambah dengan jumlah anaknya yang cukup banyak yakni sembilan belas orang. Oleh sebab itu sering kali keluarga pendeta Samuel Wesley ini terlibat masalah utang. Seorang tukang daging misalnya pernah mendatangi Susanna untuk menagih hutang yang sudah lama tidak dibayar, namun karena Susanna tidak memiliki uang sedikitpun, maka usaha tukang daging itu pun sia-sia. Di lain pihak Susanna sendiri berusaha sendiri untuk mencukupkan kebutuhan keluarga dengan berladang, memelihara sapi perah, ayam yang menghasilkan telur dan ternyata berkat Tuhan senantiasa cukup, sehingga mereka tidak pernah sampai merasa kelaparan. Masalah hutang-piutang ini bertambah sulit ketika suaminya Samuel dijebloskan ke dalam penjara karena hutangnya yang membeludak. Untuk membebaskan suaminya Susanna terpaksa meminta bantuan dari seorang Uskup Agung.
Sebenarnya sejak muda Susanna sudah merencanakan supaya keluarganya tidak memiliki banyak anak seperti ibunya yang melahirkan dua puluh lima anak, namun kenyataannya ia harus melahirkan sembilan belas orang anak, dan sembilan diantaranya meninggal. Anak sulung Susanna diberi nama seperti nama ayahnya yaitu Samuel, sedang anak keduanya bernama Susanna. Walaupun Susanna sudah begitu tekun mendidik anak-anaknya, tetap saja tidak sempurna. Satu orang anak perempuannya meninggalkan pengajarannya yakni Hetty, ia melarikan diri bersama pacarnya; namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya.
Dengan anak yang cukup banyak, ditambah kesulitan ekonomi mereka, maka tidak jarang di dalam keluarga besar ini sering terjadi pertengkaran-pertengkaran. Samuel sebagai kepala rumah tangga selalu berkeinginan mengatur masalah keluarga, namun ketika bertemu dengan isterinya ia senantiasa terbentur; sebab bagi Susanna ia menerapkannya dari sudut pandang firman Tuhan. Memang semenjak kuliah kedua suami-isteri ini mempunyai pandangan teologia yang cukup kuat, sehingga sering terjadi perdebatan-perdebatan yang tak kunjung habis. Samuel yang begitu keras pernah pisah ranjang dengan isterinya hanya gara-gara kesalahpahaman mereka dan Susanna belum meminta maaf.
Sebagai seorang isteri pendeta, sudah banyak suka-duka yang dikecap oleh Susanna. Namun demikian semua itu, tidak pernah mematahkan semangatnya melayani Tuhan. Ketika suaminya pelayanan ke luar kota, ia memakai kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang untuk bersekutu dan mengajarkan firman Tuhan. Setiap minggu hampir dua ratus orang yang ikut dalam persekutuan itu. Selain itu di dalam hal mendidik anak, setiap malam sebelum anak-anaknya tidur, Susanna selalu mendoakan mereka satu persatu, baru kemudian ia pergi tidur. Inilah riwayat singkat seorang tokoh wanita sejarah gereja, yang kemudian melahirkan tokoh-tokah gereja, misalnya John Wesley dan Charles Wesley. John pendiri gereja Methodist sedang Charles seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan ribuan lagu-lagu rohani, masih dinyanyikan di beberapa gereja samapai hari ini.
|
|
Editor:
B
|
|
Disiapkan dan diedit oleh:
Editor |
| ©
COPYRIGHT -ARCHIPEDDY |
| Phone (021)93520099, HP 0816737660/ 0812-2525-268 |
| |
|
|
pengunjung ke:

|
|
| |
| |
|